Bagaimana Hadapi Covid-19 dan Krisis Pangan di Papua?

182
Ilustrasi
Ilustrasi

Alex Saa

Juru Bicara Komite Sentral Partai Sosialis Papua (PSP)

(Kembali ke Lenin: tugas kaum pelopor gerakan Papua)

Membuka tulisan ini saya kutip kata-kata Lenin dalam Sosialisme Petani dan Kaum Miskin Desa, “Tidaklah cukup mengatakan bahwa hidup itu sulit lalu menyerukan pemberontakan. Setiap tukang gembar-gembor dapat melakukan itu. Tetapi, itu sedikit berguna. Kelas pekerja harus memahami secara jelas mengapa mereka hidup dalam kemiskinan seperti itu dan dengan siapa mereka harus bersatu untuk berjuang membebaskan diri.”

_____

Saya membaca beberapa seruan yang dikeluarkan oleh beberapa organisasi pemuda, diantaranya: seruan Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Kamar Adat Pengusaha Papua (KAP), [2] Solidaritas Pedang Asli Papua (Solpap), dan Asosiasi Pedagang Asli Papua (APAP). [3]

Organisasi pemuda KNPB dan KAP menyerukan kepada rakyat untuk kembali ke pangan dengan berkebun. Sedangkan APAP dan Solpap menuntut pemerintah sediakan sembako, sanitizer, masker, dan sarung tangan.

Kita coba sedikit melihat situasi nasional terkait transportasi dan ekonomi politik Negara.

Jubi meberitakan [4] libur sekolah telah diperpanjang sampai 9 Mei 2020. Sedangkan penutupan akses transportasi nasional akan dibuka tanggal 6 Mei besok. [5]

CNN Indonesia memberitakan [6] ada 162.416 buruh telah di PHK. Sedangkan jumlah kematian dan positif Covid di Indonesia, Jakarta telah menjadi peringkat pertama di Indonesia dengan jumlah 3.599 terhitung meninggal dan positif.

PHK buruh dilakukan karena Negara dalam menghadapi utang luar negeri sebesar 6.316 triliun. Ini membuat aktivitas sosial dan peningkatan ekonomi harus dilaksanakan untuk memerangi Covid dan utang Negara.

Dari pinjaman luar negeri, Papua tentu tuntuk dibawa keuangan Negara. Sedangkan Negara dalam posisi tegang menghadapi krisis pangan yang telah melanda Amerika, eropa, hingga Africa.

Bulog nasional [7] telah keluarkan sikap bahwa Indonesia akan menghadapi krisi pangan dengan kekuarang stok beras yang disediangan pangan nasional dan beras impor luar negeri.

162.416 buruh yang diPHK dilakukan karena telah banyak terjadi pemogokan-pemogokan karena perisahan tidak membayar upah, dipaksa kerja dengan jam kerja yang tinggi, dan tidak diliburkan dalam Covid-19 yang semakin besar.

Dari ini kita coba kembali lihat seruan dan langkah organisasi pemuda tadi menghadapi dan melawan Covid.

Dalam halaman facebook, KNPB menulis, “Jangan jual tanah! Marilah berkebun! agar bertahan dari krisis, dan melawan hegemoni pangan kolonial dan kapitalis yang mencengkram. Lalu balik melawan kolonialisme, dengan menolak tunduk tertindas pada produk impor kolonial dan kapitalis. Karena Papua Akan Sejahtera Tanpa Indonesia (PASTI). Papua akan bebas dari virus kolonial dan corona.”

Di Jubi, Ketua KAPP, [8] Musa Haluk mengatakan, “Kita memiliki hutan lahan yang luas dan semuanya subur. Saya ajak masyarakat Papua untuk kembali ke kebun, karena disitu kita akan menemukan makanan pangan lokal bernilai gizi tinggi.”

Dalam edaran e-poster Solpap, “Mama kami dukung pembatasan social demi keamanan dan kesehatan kita di Papua, sampai sekarang mama dong masih jualan tanpa masker dan sarung tangan di pasar.”

Kepada Suara Papua, Juru Bicara APAP mengatakan, “Ambil tindakan juga kesediaan stok pangan dan sembako ke seluruh masyarakat terutama mama-mama pasar. Sudah 3 positif Covid di Nabire. Kalau tidak ditangani serius: ketersediaan dan sembako untuk masyarakat, fasilitas tidak memadahi, tentu akan berpotensi tersebar.” [9]

Seruan-seruan ini coba kita berkaca dan bawa ke dalam kerangka teori: pengalaman-pengalaman revolusi dan krisis-krisis di dunia.

Kita mulai dari awal dibangun Revolusi Oktober 1917 yang dipimpin oleh Lenin dan kawan-kawannya.

Dalam The Russian Revolution (1994) sejarawan Sheila Fitzpatrick mencatat Rusia punya kaum tani yang radikal. Di bawah Tsar Alexander II, penghapusan praktik perhambaan (1861) gagal mengemansipasi petani. Dibebaskan tapi tak diberi tanah, sebagian besar dari mereka dipaksa jadi buruh atau tentara. Bertahun-tahun kemudian, industrialisasi serba mendadak di bawah Perdana Menteri Sergei Witte tak berhasil mendorong buruh-buruh kota menyesuaikan diri dengan disiplin pabrik dan gagal memutus koneksi mereka dengan kaum tani tradisional.

Tentu membentuk kaum tani radikal dan terorganisir untuk melawan Tzar tidak terjadi dengan sendirinya.

Dalam Sosialisme dan Kaum Tani yang ditulis Lenin tahun 1905 [10] menjadi pedoman dan taktik mengorganisir kaum tani.

Untuk pengelolahan pertanian, dijelaskan Lenin, disusun program-program pokok minimum berbunyi : “1) nasionalisasi tanah milik keluarga tsar, pemerintah dan milik gereja dengan jalan pensitaan; 2) nasionalisasi milik tanah besar kalau tak ada pewarisnya yang langsung; 3) nasionalisasi hutan, sungai dan danau; 4) pembatasan hakmilik, karena ia sedang menjadi penghalang untuk segala macam perbaikan (miliorasi) dalam cocoktanam, ketika perbaikan-perbaikan itu akan diakui sebagai yang perlu oleh mayoritas mereka yang berkepentingan, 7) nasionalisasi asuransi gandum dari kebakaran dan kerugian karena hujam es dan ternak dari penyakit menular: 8) bantuan menurut undang-undang dari pihak negara kepada pembentukan artel-artel dan koperasi-koperasi cocoktanam; 9) sekolah-sekolah agronomi”. Program ini dijalankan oleh Komite-komite Revolusioner Kaum Tani.

Lebih lanjut dijelaskan, bersama dengan kaum tani-majikan melawan tuan tanah dan negara tuan tanah, bersama dengan proletariat kota melawan seluruh burjuasi dan semua kaum tani pemilik. Beginilah semboyan proletariat desa yang sadar. Dan kalau majikan-majikan kecil tidak segera menerima semboyan ini atau bahkan kalau mereka menolak menerimanya sama sekali, semboyan ini bagaimana pun akan menjadi semboyan kaum buruh, ia akan apsti diperkuat oleh seluruh revolusi, ia akan menyelamatkan kita dari ilusi-ilusi burjuis kecil, ia akan menunjukkan kepada kita dengan jelas dan penuh ketentuan tujuan Sosialis kita.

Dalam artikel Membangun Gerakan Tani Ala Lenin yang ditulis oleh In’amul Mushoffa di Transisi [11], dijelaskan, petani proletar adalah petani yang tidak memiliki lahan pertanian sehingga mereka bekerja sepenuhnya kepada orang lain, baik itu petani kapitalis maupun petani menengah. Sedangkan petani semi proletar adalah petani yang memiliki lahan pertanian kecil. Hasilnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehingga sebagian besar tenaga mereka ia curahkan untuk bekerja pada orang lain.

Dalam pamflet Solialisme dan Kaum Tani (1905), Lenin tidak mendorong kaum kaum Sosial Demokrat merebut dan mengkolektivisasi tanah-tanah potongan (tuan tanah) yang direbut oleh aliansi kaum tani: proletariat dan petani borjuasi. Kepada kaum buruh PBSDR, Lenin mengatakan bahwa “tanah-tanah yang telah di situ itu bukan urusan kita (kaum Sosial Demokrat).” Kaum petani di desalah yang akan menyelesaikannya. Justru itu menjadi awal dimulainya pertentangan antara proletariat dengan borjuasi di kalangan kaum tani. Tugas PBSDR hanya memberikan masukan-masukan tentang permulaan jalan yang harus ditempuh.

Lebih lanjut In’amul berkesimpulan hanya persatuan kelas pekerja yang dapat menumbangkan kapitalisme. Di titik inilah, membangun gerakan agraria dengan perspektif kelas berguna untuk mengakurasi perlawanan kaum tani menjadi perjuangan kelas untuk menumbangkan borjuasi-kapitalisme sekaligus memperjuangkan tatanan sosialisme.

Kita coba kembali lihat seruan-seruan organisasi pemuda Papua di atas.

Dari kerangka teori revolusioner ini kita klasifikasi dalam tiga hal: komite atau aliansi tani, tani democrat, revolusi demokratik, dan sosialisme. KNPB, KAP, APAP, Solpap adalah organisasi pemuda termasuk organisasi sosdem. Disini kita tidak temukan komite atau alianasi tani yang dibentuk dengan program-program pokok, taktik dan strategi organisasi untuk mencapai revolusi demokratik dan revolusi sosialis.

Disini kita bisa melihat kelemahan dan kekurangan organisasi pemuda di Papua. Termasuk kekurangan kaum pelopor dan gerakan.

Bagaimana menghadapi Covid-19 dan krisis pangan?

Seperti ditegaskan Lenin, pembentukan aliansi, komite, atau serikat tujuannya untuk menyusun program taktik dan strategi.

Sekarang coba masing-masing organisasi pemuda, terutama kaum pelopor sosialis duduk bersama dan lakukan pembacaan situasi secara objektif.

Selanjutnya disusun:

Pertama: membangun serikat-serikat tani. Tujuannya supaya diprogramkan bagaimana ketahanan pangan, proses pertanian, mulai dari mebukaan lahan kebun, pembibitan, penanaman, hingga panen oleh serikat.

Kedua: dibangun sektor ekonomi kreatif. Tujuannya supaya memutus rantai ketergantungan colonial dan kapitalis. Pengelolahan pangan tidak hanya jadi ubi rebus atau singkong rebus, tetapi coba dikembangkan ke pabrik kripik, tepung, dan lain-lain oleh serikat tani.

Ketiga: membangun solidaritas. Tujuannya membangun solidaritas kelas pekerja perkotaan, buruh, miskin kota, dan dengan serikat-serikat pekerja Indonesia untuk merebut revolusi nasional demokratik Papua dan revolusi sosialis.

Dok 2, Numbay, 25 April 2020

Catatan:

[1]. https://web.facebook.com/permalink.php?story_fbid=101774774816066&id=101028134890730&__xts__[0]=68.ARAhAoEb1n6qpLpt7AALOxQvz51UxhLuAGWjZsj3ZZCveLTYVzkcqGdd5-T-58aZTZw4eFkVVJTpPVg46ZwSfnGLINso7pfAw1Vwyxwi4bwKW7AJATnFUj0y67lIaF20kW5QbbBIYtPeLlYGbDHUsuv1TRDunY1XZecMaPUJFh4ggyUhw3YSBUIFlrzYKn8OpNHH3cAj3UqgayGf-6eeQ08oIMAf5-FdbLVZKQ7EtObPf0JUApGU57qHcAP7VeR3G4qDV_kb01EHhEaKVjwgH9R-RkWzLB8tfPwynXNgWvesc2U4Za-cUfEKX8AATkTn-WNi49BlzN7GHcTFZjwtFt0&__tn__=-R

[2]. Seruan e-poster

[3]. https://suarapapua.com/2020/04/18/bupati-di-meepago-diminta-melihat-ketersediaan-sembako/

[4]. https://jubi.co.id/libur-sekolah-di-papua-diperpanjang-sampai-9-mei-2/

[5]. http://teropongnews.com/berita/pasien-positif-covid-19-bertambah-bandara-deo-kembali-ditutup-hingga-6-mei-2020/?fbclid=IwAR0oJO5-aRAjhUzciF–N_cQ9V09YbNTU75pz-edg7q6NiCAkraysyz7fhI

[6]. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200422184523-92-496263/corona-208-juta-buruh-kena-phk-dan-dirumahkan-per-20-april?

[7]. http://bulog.co.id/berita/37/1183/10/6/2009/Indonesia-Siap-Hadapi-Krisis-Pangan-Global.html?

[8]. https://jubi.co.id/pandemi-covid-19-bisa-menjadi-momentum-untuk-kembali-ke-pangan-lokal/

[9]. https://suarapapua.com/2020/04/18/bupati-di-meepago-diminta-melihat-ketersediaan-sembako/

[10]. https://www.marxists.org/indonesia/archive/lenin/1905/SosialismeDanKaumTani.htm?

[11]. https://transisi.org/membangun-gerakan-petani-ala-lenin/